The Odyssey: Alasan Paling Epik untuk Telat Pulang ke Rumah

Menonton film ini dan mengiranya sejarah sama bodohnya dengan mengira The Avengers adalah dokumenter tentang tata kota New York. Mari membedah realita pahit di balik kisah kepahlawanan kuno yang sebenarnya didasari oleh perebutan harta dan kebodohan kolektif.

Sineas Hollywood punya kebiasaan buruk: mengambil karya sastra kuno yang isinya 99% imajinasi, lalu membungkusnya dengan sinematografi epik agar penonton awam mengiranya sebagai sejarah umat manusia.

The Odyssey (2026) adalah salah satu korbannya. Jika Anda keluar dari bioskop dan berpikir bahwa orang Yunani Kuno benar-benar bertarung melawan monster bermata satu, Anda mungkin perlu mengulang kelas sejarah SMP.

Apakah The Odyssey Kisah Nyata? (Spoiler: Tidak)

The Odyssey berasal dari puisi epik karangan penyair Yunani bernama Homer (ditulis sekitar abad ke-8 SM). Fokus utamanya adalah perjalanan pulang seorang pahlawan bernama Odysseus setelah Perang Troya selesai.

Perjalanannya yang seharusnya hanya memakan waktu beberapa minggu malah molor menjadi 10 tahun. Kenapa? Karena menurut mitologi, ia dikutuk oleh Poseidon, sang dewa laut. Ia harus menghadapi monster laut, penyihir yang mengubah krunya menjadi babi, hingga nyasar ke pulau bidadari.

Secara logika, The Odyssey adalah kisah paling elaboratif yang pernah dikarang oleh seorang suami red flag untuk menutupi fakta bahwa dia tidak mau cepat-cepat pulang ke istrinya. Bukannya jujur, dia malah menyalahkan campur tangan dewa dan monster. Classic.

Perang Troya Versi Legenda (Puncak Kebodohan Maskulinitas)

Dalam The Odyssey, Perang Troya adalah panggung utamanya. Menurut dongeng yang dipercaya orang-orang, perang raksasa ini dipicu oleh masalah rumah tangga kelas sinetron.

Pangeran Troya bernama Paris membawa kabur Helen, istri dari Menelaus (Raja Sparta). Karena egonya hancur, Menelaus mengajak seluruh kerajaan Yunani untuk mengepung Troya selama 10 tahun. Ya, Anda tidak salah baca: ribuan pria tak bersalah dikirim untuk mati secara mengenaskan hanya karena seorang raja tidak terima diselingkuhi.

Perang ini diakhiri dengan taktik "Kuda Troya". Tentara Yunani pura-pura kabur dan meninggalkan patung kuda kayu raksasa berisi pasukan pembunuh di dalamnya. Orang Troya melihat kuda misterius dari musuh mereka itu dan berpikir, "Wah, hadiah gratis! Ayo bawa masuk ke dalam benteng!"

Melihat kebodohan ini, kita bisa menyimpulkan bahwa pembantaian malam itu adalah bentuk seleksi alam yang sangat efisien.

Perang Troya Versi Realita (Membosankan, Tapi Logis)

Berabad-abad lamanya, Troya dianggap sebagai kota fiktif. Sampai akhirnya, di akhir abad ke-19, arkeolog menemukan puing-puing kotanya di Hisarlik (Turki modern).

Apakah Kuda Troya itu nyata? Tentu saja tidak.
Apakah mereka berperang demi cinta? Jangan naif.

Fakta sejarahnya jauh lebih membosankan namun sangat masuk akal:

  • Perang Murni Karena Uang: Troya adalah kota strategis yang menguasai rute perdagangan maritim, mengontrol pajak untuk siapa saja yang ingin lewat ke Laut Hitam. Orang Yunani menyerang mereka murni karena rakus dan ingin memonopoli rute dagang tersebut. Manusia tidak pernah membantai ribuan nyawa demi cinta, mereka melakukannya demi uang dan kekuasaan.
  • Nasib Kota Troya: Lapisan arkeologi kota ini memang menunjukkan tanda-tanda kebakaran hebat dan peperangan berdarah sekitar tahun 1200 SM. Ditemukan banyak mata panah dan sisa kerangka manusia yang berserakan tanpa dikubur dengan layak—bukti bahwa mereka diinvasi tanpa ampun.

Kesimpulan

The Odyssey adalah murni blockbuster fantasi era Yunani Kuno. Sementara Perang Troya adalah sengketa tanah berdarah yang kemudian dipoles oleh para penyair zaman dulu agar terdengar lebih romantis dan epik. Sebab, mendongengkan kisah tentang "perang perebutan jalur pajak" jelas tidak akan laku dijadikan puisi.