Bualan Klasik Pria Telat Pulang

Sineas Hollywood punya kebiasaan menjijikkan mengambil karya sastra kuno yang isinya sembilan puluh sembilan persen imajinasi liar, lalu membungkusnya dengan sinematografi mahal agar saya dan kamu mengiranya sebagai sejarah umat manusia. Jika kamu melangkah keluar dari bioskop setelah menelan durasi panjang film berbujet fantastis itu dan berpikir orang Yunani Kuno benar-benar bertarung melawan monster bermata satu, kamu adalah produk gagal dari sistem pendidikan. Puisi epik The Odyssey sering kali diagungkan tanpa akal sehat sebagai narasi kepahlawanan, padahal fondasinya hanyalah kebohongan kelas teri.

Kisah ini menyoroti perjalanan pulang seorang pria bernama Odysseus pasca Perang Troya. Perjalanan yang secara logis hanya memakan waktu beberapa minggu malah membusuk menjadi sepuluh tahun dengan dalih dikutuk dewa laut, dicegat monster, hingga tersesat di pulau bidadari. Secara rasional, seluruh epos ini hanyalah fiksi paling elaboratif yang pernah dikonstruksi oleh seorang suami red flag untuk menutupi fakta bahwa ia enggan melihat wajah istrinya di rumah. Alih-alih jujur bahwa ia butuh validasi dari kehidupan bebasnya, ia malah menyalahkan campur tangan dewa dan penyihir laut. Ini adalah bentuk manipulasi psikologis tingkat dewa yang entah kenapa malah dirayakan sebagai literatur agung.

Seluruh kebodohan ini berpusat pada panggung utamanya, yakni sebuah peperangan besar. Dongeng yang dicekokkan ke kepala kita menyebutkan bahwa konflik raksasa ini dipicu oleh masalah rumah tangga murahan. Pangeran Troya membawa kabur istri Raja Sparta, dan karena egonya hancur lebur, sang raja menyeret seluruh kerajaan untuk mengepung kota itu selama satu dekade. Ribuan pria tak bersalah dikirim untuk mati mengenaskan hanya karena seorang penguasa gagal menjaga keutuhan ranjangnya. Puncak komedinya ada pada taktik kuda kayu raksasa. Musuh meninggalkan patung kayu besar tak bertuan, dan penduduk Troya dengan riang membawanya masuk ke dalam benteng mereka. Pembantaian berdarah yang terjadi pada malam itu bukanlah sebuah tragedi heroik, melainkan bentuk seleksi alam yang sangat efisien untuk memusnahkan kawanan manusia bodoh.

Realitas sejarah selalu jauh lebih membosankan namun kejam dan masuk akal. Berabad-abad kota ini dianggap mitos sampai akhirnya puing-puingnya ditemukan terkubur di Turki. Fakta saintifik membuktikan bahwa tidak pernah ada kuda kayu dan tidak ada satu pun primata berakal yang sudi saling menyembelih demi cinta. Kota tersebut hanyalah titik strategis yang menguasai rute maritim, memonopoli pajak bagi siapa saja yang ingin melintas ke Laut Hitam. Orang Yunani melancarkan invasi murni karena keserakahan finansial. Sisa kerangka manusia tanpa kuburan layak yang ditemukan berserakan di situs arkeologi adalah monumen kebrutalan ekonomi. Mendongengkan kisah nyata tentang sengketa jalur pajak maritim jelas tidak akan laku dijual kepada khalayak, jadi para penyair meriasnya dengan darah, cinta, dan bualan maskulinitas yang epik.

Read more