Sindrom Pahlawan Kesiangan
Banyak dari kamu yang masih hobi menelan mentah-mentah ilusi bahwa cinta sejati wajib dibayar dengan penderitaan berdarah. Jika kewarasanmu belum terkuras habis, rasanya seperti belum afdal menjalin asmara. Kebodohan primitif ini ditangkap dengan sangat presisi oleh Sienna Spiro melalui lagunya yang bertajuk Die On This Hill. Alih-alih meromantisasi kesetiaan tanpa batas, liriknya justru menampar wajah kita dengan realita betapa dungunya manusia saat ngotot bertahan di jalan yang sudah jelas buntu. Ada perasaan adiktif yang menjijikkan ketika kamu merasa sangat dibutuhkan oleh makhluk lain. Psikolog amatir di luar sana sering menyebut fenomena ini sebagai sindrom penyelamat. Kamu melihat pasanganmu yang manipulatif, tidak stabil secara emosional, dan penuh masalah layaknya rongsokan, lalu otakmu yang kelebihan hormon memutar narasi heroik bahwa hanya kasih sayangmu yang bisa menyembuhkannya. Kamu menelan semua perlakuan buruk karena merasa sedang melakukan pengorbanan suci, padahal realitasnya kamu sekadar merelakan diri menjadi samsak emosional gratisan.
Alasan mengapa kamu menolak lari saat bendera merah sudah berkibar menutupi seluruh pandanganmu berakar pada kecacatan logika yang sering disebut sesat pikir biaya tertanam. Kamu terlanjur membuang waktu bertahun-tahun, menguras tenaga, meneteskan air mata, dan menggadaikan sisa kebahagiaan untuk manusia bermasalah ini. Otakmu yang menolak rugi akhirnya mendoktrin diri sendiri bahwa berhenti sekarang adalah sebuah kegagalan mutlak. Akibatnya, kamu lebih memilih untuk terus menggali lubang penderitaan yang lebih dalam hanya demi meyakinkan diri bahwa pengorbanan masa lalu tidak sepenuhnya berujung sia-sia. Berhenti sekarang rasanya sama memalukannya dengan merobek saham investasi bodong yang sudah kamu biayai dengan air mata dan kewarasan.
Pada titik kelelahan tertentu, bertarung membela bukit rongsokan ini sama sekali bukan lagi tentang cinta, melainkan murni perkara gengsi murahan. Lingkaran pertemananmu sudah berbusa memperingatkan, dan sisa-sisa logikamu sendiri mungkin sudah menjerit minta tolong. Namun, jika kamu menyerah dan pergi hari ini, kamu harus menelan pil pahit untuk mengakui bahwa orang lain benar dan kamu sudah buta sejak awal. Demi melindungi kepingan ego yang rapuh itu, kamu menancapkan bendera di atas bukit penderitaan dan berhalusinasi bahwa badai ini akan indah pada waktunya. Sienna Spiro sekadar memotret keras kepala salah tempat ini tanpa repot-repot memberimu solusi romantis. Lagunya menertawakan fakta ironis bahwa langkah paling berani yang bisa kamu ambil bukanlah bertahan sampai hancur lebur, melainkan mengakui kekalahan, turun dari bukit konyol itu, dan menyelamatkan secuil kewarasanmu yang tersisa.