Tragedi Komuter Bojong Gede

Jika kamu adalah budak korporat yang rutin menyiksa diri di jalur kereta Bogor, kamu pasti hafal betul dengan pemandangan absurd ini. Kereta berangkat dari Jakarta dengan kondisi penuh sesak, memaksamu menahan napas di bawah ketiak orang asing yang sama-sama kelelahan akibat kerasnya hidup. Namun, begitu sistem pengeras suara bersuara parau mengumumkan kedatangan di Stasiun Bojong Gede, terjadi pergerakan massa yang luar biasa masif. Pintu terbuka dan gerbong yang tadinya menyerupai kaleng sarden murahan mendadak lega karena separuh penumpangnya muntah ditelan peron. Keganasan ini sama sekali bukan karena ada pembagian sembako gratis di luar sana. Fenomena ini murni buah dari tata kota yang cacat dan kompromi finansial kaum pekerja yang menyedihkan.

Rahasia umum di balik anomali ini sebenarnya sangat memprihatinkan. Mayoritas dari lautan manusia yang turun di stasiun tersebut sama sekali tidak berdomisili di Bojong Gede. Mereka adalah penduduk Cibinong dan sekitarnya, sebuah wilayah yang ironisnya berstatus sebagai pusat pemerintahan namun dianugerahi akses transportasi yang memalukan. Frekuensi kereta menuju jalur Nambo sangat langka, datangnya jauh lebih lambat dari keajaiban yang terus kamu tunggu dalam hidupmu. Akibat kelalaian infrastruktur ini, Stasiun Bojong Gede terpaksa dikorbankan menjadi titik transit mutlak. Tempat ini hanyalah lahan parkir raksasa bagi mereka sebelum melanjutkan perjalanan panjang menuju peradaban Bogor Raya.

Begitu kamu memaksakan diri keluar dari gerbang stasiun, jangan pernah bermimpi disambut oleh trotoar yang memanusiakan manusia. Kamu akan langsung dihadapkan pada armada tempur angkutan umum biru dan merah yang jumlahnya mengalahkan populasi bintang di langit malam. Infrastruktur transportasi di neraka kecil ini terbentuk secara liar tanpa intervensi tata ruang yang waras. Angkutan kota ini menguasai rute ke segala penjuru perumahan subsidi yang tersebar sejauh mata memandang. Kelancaran mobilitas yang dikendalikan oleh abang-abang sopir inilah yang membuat stasiun tersebut begitu strategis, meski kemacetan yang dihasilkannya jelas berada di luar nalar peradaban modern.

Akar dari seluruh penderitaan komuter ini berpusat pada keputusasaan ekonomi. Harga properti di ibu kota sudah lama menertawakan isi dompetmu, sementara daerah pinggiran lain juga sudah mulai ikut-ikutan mematok harga tidak masuk akal. Wilayah berantakan ini adalah titik kompromi terakhir di mana kaum pekerja masih bisa menemukan rumah tapak dengan cicilan yang masuk akal. Konsekuensinya, mereka harus menukar sisa kewarasan dengan menempuh perjalanan neraka setiap pagi. Orang-orang itu tumpah ruah di peron bukan karena mereka mencintai daerah tersebut, melainkan sekadar memaksakan diri menelan pil pahit untuk bertahan hidup, mengesot setiap malam kembali ke istana cicilan mereka demi mengulang siklus penderitaan yang sama esok hari.

Read more