Tuhan di Ujung Senapan Nicki Minaj

Semuanya bermula ketika saya mencoba memasukkan amunisi baru ke dalam senjata laras panjang saya. Alih-alih mendengar harmoni logam dingin yang bergesekan, telinga saya justru diserang oleh teriakan centil seorang karakter sementara layarnya menampilkan tangan saya menggenggam boneka beruang neon. Di titik itulah saya menyadari bahwa simulasi peperangan ini sudah bermutasi menjadi arena komedi, atau mungkin sisa kewarasan saya saja yang sudah terlalu menua untuk mengikuti pesta kostum konyol ini. Dulu, saya dan kamu angkat kaki dari permainan tembak-menembak ini murni karena alasan teknis yang masuk akal, entah itu karena peladen yang tiba-tiba terputus atau stik yang hancur berkeping-keping akibat amarah. Hari ini, kita menekan tombol keluar karena keletihan eksistensial. Perangkat lunak raksasa ini telah menginvasi penyimpanan komputer seperti parasit digital yang kelaparan. Saya bahkan terpaksa menghapus mahakarya koboi memukau yang prosesnya terasa amat pedih di dada, hanya demi memberi ruang bagi sebuah gerbang masuk permainan yang antarmukanya dirancang jauh lebih rumit daripada panel kendali nuklir Korea Utara.

Penderitaan utamanya sama sekali bukan terletak pada mekanisme tembak-menembak itu sendiri. Akar masalahnya meledak ketika kamu pulang dari rutinitas budak korporat pukul tujuh malam, ingin mencari pelarian sejenak, tetapi algoritma pencarian lawan memutuskan bahwa kamu harus diadu dengan lima kloningan atlet olahraga elektronik yang bertahan hidup dengan menenggak minuman berenergi lewat infus. Manusia-manusia di dalam layar ini tidak lagi berjalan menggunakan kaki mereka. Mereka meluncur secara abnormal, melompat seperti kelinci rabies, dan mempraktikkan pergerakan memuakkan yang mematahkan seluruh hukum fisika dasar. Ketika saya melepaskan tembakan ke kiri, mereka sudah terbang memantul di langit-langit. Saat saya menengok ke kanan, mereka sudah berada di belakang saya, membisikkan kata-kata kotor, lalu mengeksekusi karakter saya dengan gerakan pamungkas yang melibatkan ledakan kembang api sirkus. Saya hanya ingin mencari ketenangan fana lewat baku tembak virtual, bukan mendaftar untuk audisi akrobatik yang menguras isi kepala.

Krisis identitas terparah dari waralaba ini justru terpampang nyata pada nilai estetikanya. Simulasi militer yang dulunya kental dengan aroma pasir, debu, dan seragam kamuflase yang suram kini telah menjelma menjadi arena bermain warna-warni untuk orang dewasa yang menolak realita. Di satu sudut peta, berdiri karakter kapten legendaris dengan wajah penuh arang pertempuran. Namun tepat di sebelahnya, ada pahlawan super psikopat yang sedang berjoget konyol satu tim dengan monster pohon dari luar angkasa, dan tentu saja, figur wanita berambut merah muda cerah menyala. Menatap kekacauan di layar ini rasanya persis seperti sedang dihantam demam tinggi. Kamu sedang tiarap di parit perlindungan, berusaha sebisa mungkin untuk menanggapi pertempuran ini dengan serius, lalu tiba-tiba sebuah mobil van fiktif meledak tepat di depan wajahmu. Pada titik ini, imersi militer bukan lagi sekadar mati suri. Bangkainya sudah digali kembali, diludahi, dan dipakaikan baju badut.

Kebodohan ini semakin tak tertolong saat kita menengok pada rilisan teranyarnya yang dijanjikan sebagai sebuah kepulangan epik. Harapan itu sempat ada, meski tipisnya mengalahkan kualitas tisu toilet di terminal bus kumuh. Namun setelah membuang sisa umur untuk mengunduh dan menunggu proses pemuatan bayangan grafik selama durasi satu episode drama televisi, semuanya terasa hampa belaka. Ini hanyalah rongsokan seri sebelumnya yang dipakaikan topi baru, sebuah konten tambahan seharga lebih dari satu juta rupiah yang memaksa nilai tukar rupiah kita menangis menjerit. Mode ceritanya terasa seperti naskah buangan yang dirakit oleh kecerdasan buatan saat sedang mabuk nostalgia, sementara mode multipemainnya tidak lebih dari sekadar siklus penyiksaan repetitif dengan warna palet yang sengaja dibuat sedikit lebih gelap. Saya akhirnya menekan tombol hapus pemasangan dan menatap garis kemajuan itu perlahan menyapu bersih ratusan gigabita data kotor tersebut. Saat angkanya menyentuh garis akhir, saya merasakan keheningan luar biasa yang sudah lama hilang. Setidaknya malam ini ruang penyimpanan saya kembali bernapas lega, dan yang terpenting, sisa harga diri saya terselamatkan karena tidak perlu lagi ditembak mati oleh penyanyi pop internasional di medan perang fiktif yang tidak masuk akal.

Read more